Bahkan pada tahun berikutnya jumlah orang-orang suku Khazraj yang masuk Islam semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah mengutus dua sahabat beliau, Abdullah bin Ummi Maktum dan Mush’ab bin ‘Umair radliyallahu ‘anhuma, untuk pergi bersama mereka ke kota Yatsrib, untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dan mendakwahkan Islam kepada beberapa orang dari suku Khazraj yang belum masuk Islam.
Ketika jumlah kaum muslimin yang siap menegakkan agama Allah di Yatsrib semakin bertambah banyak, Allah memerintahkan umat Islam di Makkah untuk berhijrah menuju kota Yatsrib atau yang dikenal kemudian dengan sebutan kota Madinah.
Para sahabat Nabi lalu berbondong-bondong melaksanakan perintah-Nya. Kemudian Nabi pun berhijrah dari Makkah, tanah air beliau dan kota yang paling beliau cintai menuju Madinah.
Beliau dengan ditemani sahabat Abu Bakr Radliyallahu ‘Anhu menaklukkan berbagai rintangan dan halangan dalam perjalanan hijrah menuju Kota Yatsrib.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah
Hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat tidaklah melarikan diri dari orang-orang musyrik. Bukan pula bentuk sikap putus asa dari kondisi yang terjadi.
Hijrah beliau juga tidak bertujuan untuk mencari ketenaran, pangkat dan kekuasaan di Kota Madinah. Sama sekali tujuannya bukan itu. Tetapi yang beliau harapkan hanyalah ridha Allah semata.
Ini adalah puncak keteladanan bagi kita semua, khususnya bagi para dai yang ingin mengabdikan hidupnya untuk berdakwah.
Jamaah Jumat yang Mulia
Peristiwa hijrah Rasulullah dan para sahabatnya adalah petunjuk bagi kita bahwa kemusyrikan, kekufuran, kezaliman dan kebatilan, sekuat dan sebesar apapun, pasti pada akhirnya akan terperosok ke dalam jurang kehancuran.
Sebaliknya, kebenaran pasti suatu saat akan menemukan jalan kesuksesan dan pasti akan berhasil mengibarkan panji-panji kemenangan.
BACA HALAMAN BERIKUTNYA..