MATERI KULTUM RAMADHAN SINGKAT
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita kesempatan menikmati puasa hari ke-8 dan bersiap memasuki hari ke-9 Ramadhan. Nikmat umur dan kesempatan beribadah ini adalah karunia yang sangat besar. Betapa banyak saudara kita yang tahun lalu masih bersama kita, namun hari ini telah kembali kepada Allah.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Delapan hari Ramadhan telah kita lalui. Waktu berjalan begitu cepat. Pertanyaannya, apakah kualitas ibadah kita semakin meningkat atau justru mulai menurun? Ramadhan bukan tentang siapa yang paling semangat di awal, tetapi siapa yang mampu istiqamah hingga akhir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan, dan (demikian pula) orang yang telah bertobat bersamamu.” (QS. Hud: 112)
Istiqamah itu tidak mudah. Ia membutuhkan kesabaran. Ketika rasa lelah datang, ketika kantuk menyerang saat tarawih, ketika godaan untuk bermalas-malasan muncul, di situlah nilai perjuangan seorang mukmin diuji.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita di hari ke-8 ini. Tidak harus banyak, tetapi harus konsisten. Tidak harus panjang, tetapi harus rutin. Dua rakaat tahajud yang istiqamah lebih baik daripada semangat sesaat yang kemudian hilang.
Jamaah sekalian,
Puasa mengajarkan kita tentang pengendalian diri. Kita menahan lapar dan dahaga bukan karena tidak mampu makan, tetapi karena taat kepada Allah. Di sinilah letak keikhlasan. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Allah.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa istimewanya ibadah puasa. Pahalanya tidak disebutkan secara spesifik, karena Allah sendiri yang akan memberikan balasan tanpa batas. Maka sungguh merugi jika kita menjalani puasa hanya sebatas menahan lapar, tetapi lisan kita masih menyakiti, hati kita masih dipenuhi iri dan dengki.
Di hari ke-8 menuju hari ke-9 ini, mari kita evaluasi diri. Sudahkah lisan kita lebih terjaga? Sudahkah kita lebih sabar terhadap pasangan, anak, dan sesama? Sudahkah kita memperbanyak istighfar?
Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini berada di tengah-tengah pembahasan tentang puasa. Ini isyarat bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berdoa. Jangan sia-siakan waktu menjelang berbuka. Jangan lewatkan sujud terakhir kita tanpa doa yang sungguh-sungguh.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita sedang berjalan menuju sepuluh hari pertama yang penuh rahmat. Jika di awal ini kita sudah terbiasa menjaga ibadah, maka insyaAllah di pertengahan dan akhir Ramadhan kita akan semakin kuat.
Bayangkan jika Ramadhan ini adalah yang terakhir. Apakah kita sudah memaksimalkannya? Ataukah kita masih menunda taubat, menunda sedekah, menunda membaca Al-Qur’an?
Hidup ini singkat. Ramadhan pun singkat. Yang panjang adalah akhirat. Jangan sampai kita menyesal ketika Ramadhan telah pergi dan kita kembali pada kebiasaan lama tanpa perubahan.
Mari kita perbanyak doa:
Ya Allah, kuatkan kami untuk istiqamah dalam ibadah. Jangan Engkau jadikan semangat kami hanya di awal Ramadhan. Jadikan hari ke-9 esok lebih baik dari hari ini. Ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.
Semoga Allah menerima puasa kita, qiyam kita, sedekah kita, dan seluruh amal ibadah kita. Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi madrasah yang membentuk kita menjadi hamba yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih bertakwa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW






