KHUTBAH JUMAT I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ اللَّيَالِيَ وَالْأَيَّامَ مَوَاعِظَ لِأُولِي الْأَلْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup yang sangat singkat ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pergantian tahun adalah peristiwa yang selalu datang dan pergi. Sebagian orang merayakannya dengan berbagai cara. Sebagian lagi menganggapnya sebagai peristiwa biasa. Namun bagi seorang mukmin, pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka kalender. Pergantian tahun adalah pengingat bahwa umur kita berkurang, waktu kita semakin sedikit, dan jarak menuju kematian semakin dekat.
Kita sering mengucapkan “selamat tahun baru”. Namun pertanyaannya, apakah hati kita juga baru? Apakah amal kita semakin baik? Apakah dosa-dosa kita semakin berkurang? Apakah hubungan kita dengan Allah semakin dekat?
Tema khutbah hari ini adalah “Tahun Baru, Hati Baru.”
Jamaah Rahimakumullah,
Sesungguhnya yang paling membutuhkan pembaruan bukanlah rumah, kendaraan, pakaian, atau telepon genggam kita. Yang paling membutuhkan pembaruan adalah hati kita.
Banyak orang mengganti kendaraan setiap beberapa tahun. Banyak orang mengganti telepon genggam setiap kali muncul model terbaru. Namun hati yang penuh iri, dengki, sombong, dan lalai terkadang dibiarkan bertahun-tahun tanpa diperbaiki.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, tahun baru seharusnya menjadi momentum memperbarui hati.
Hati yang selama ini keras menjadi lembut. Hati yang selama ini lalai menjadi sadar. Hati yang selama ini jauh dari Allah menjadi dekat kepada-Nya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu penyakit zaman sekarang adalah hati yang semakin sibuk dengan dunia namun semakin jauh dari akhirat.
Kita hidup pada masa ketika informasi sangat mudah diperoleh. Dalam hitungan detik kita dapat mengetahui berita dari berbagai belahan dunia. Namun ironisnya, banyak orang yang mengetahui segala hal kecuali keadaan hatinya sendiri.
Kita tahu harga saham, tetapi tidak tahu berapa banyak dosa yang telah kita lakukan.
Kita tahu jadwal pertandingan, tetapi tidak tahu kapan terakhir kali menangis dalam sujud.
Kita tahu perkembangan teknologi terbaru, tetapi tidak tahu apakah Allah ridha kepada kita atau tidak.
Inilah yang perlu direnungkan saat memasuki tahun yang baru.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?” (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini seperti teguran langsung kepada kita.
Sudah berapa tahun usia kita? Sudah berapa kali Ramadan datang dan pergi? Sudah berapa banyak khutbah yang kita dengar? Sudah berapa banyak nasihat yang kita terima? Lalu mengapa hati kita masih sulit tersentuh?
Jamaah Rahimakumullah,
Ketika berbicara tentang tahun baru, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang waktu. Dan waktu adalah nikmat yang sering disia-siakan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan ketika sakit.
Banyak orang baru menyadari pentingnya waktu ketika usia telah senja.
Banyak orang baru menyadari pentingnya amal ketika kematian telah datang.
Padahal kesempatan yang ada hari ini belum tentu ada esok hari.
Kita sering mendengar kabar seseorang yang pagi masih sehat, sore hari meninggal dunia.
Ada yang berangkat bekerja tetapi tidak kembali ke rumah.
Ada yang berangkat menunaikan ibadah namun dipanggil Allah sebelum sempat pulang.
Semua itu mengingatkan bahwa umur manusia tidak pernah dijamin panjang.
Yang dijamin hanyalah kematian. Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran: 185)
Karena itu, memasuki tahun baru hendaknya membuat kita semakin serius mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan agar benar-benar memiliki hati yang baru.
Pertama, memperbanyak taubat.
Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Kita semua memiliki kesalahan. Namun sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang segera bertaubat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Tahun baru hendaknya diawali dengan istighfar yang tulus. Menyesali dosa masa lalu. Berjanji tidak mengulanginya. Dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Kedua, memperbaiki shalat.
Banyak masalah hati sebenarnya berawal dari lemahnya hubungan dengan Allah. Jika shalat kita baik, insya Allah hidup kita akan lebih baik. Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Jangan sampai kita memasuki tahun baru dengan shalat yang masih sering ditinggalkan atau ditunda-tunda.
Ketiga, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Ada orang yang rajin beribadah tetapi masih menyimpan kebencian kepada saudaranya.
Ada yang rajin ke masjid tetapi memutus silaturahmi.
Ada yang sering membaca Al-Qur’an tetapi mudah menyakiti orang lain dengan lisannya.
Padahal hati yang baru harus diwujudkan dengan akhlak yang baru.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, memperbanyak amal saleh.
Jangan menunggu tua untuk beramal. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.
Mulailah dari yang kecil. Senyum kepada sesama, membantu tetangga, menyantuni anak yatim, memakmurkan masjid, mengajarkan ilmu, mendoakan orang tua. Semua itu akan menjadi investasi akhirat yang sangat berharga.
Jamaah Rahimakumullah,
Saat ini kita hidup di tengah masyarakat yang menghadapi banyak tantangan moral. Korupsi masih terjadi. Fitnah dan ujaran kebencian mudah menyebar melalui media sosial. Perceraian meningkat. Pergaulan bebas semakin mengkhawatirkan.
Bahkan tidak sedikit anak yang kehilangan adab kepada orang tua.
Semua itu menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti kemajuan hati.
Karena itu, perubahan yang paling dibutuhkan bangsa ini bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan hati.
Jika hati para pemimpin baik, lahirlah kebijakan yang baik.
Jika hati para pedagang baik, lahirlah kejujuran.
Jika hati para guru baik, lahirlah pendidikan yang berkah.
Jika hati para orang tua baik, lahirlah generasi yang saleh.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan hati.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita jadikan tahun yang baru sebagai kesempatan untuk memulai kembali.
Jika selama ini kita jauh dari Al-Qur’an, mari mendekat. Jika selama ini lalai shalat berjamaah, mari memperbaikinya. Jika selama ini sering menyakiti orang tua, mari meminta maaf. Jika selama ini jarang bersedekah, mari membiasakannya. Jika selama ini hati kita keras, mari melembutkannya dengan dzikir dan istighfar.
Jangan biarkan tahun berganti sementara hati tetap sama. Jangan biarkan usia bertambah sementara amal tidak bertambah. Jangan biarkan kalender berubah sementara akhlak tidak berubah.
Sebab yang terpenting bukan tahun yang baru, melainkan diri yang baru.
Yang terpenting bukan lembar kalender yang baru, melainkan lembar amal yang lebih baik. Semoga Allah menjadikan tahun yang kita jalani ini sebagai tahun yang penuh keberkahan, tahun yang mendekatkan kita kepada-Nya, dan tahun yang menjadi saksi perubahan hati kita menuju ketakwaan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
KHUTBAH II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.




