Khutbah Jumat Singkat: Ketika Piala Dunia Melalaikan Shalat (Bahasa Indonesia)

Ilustrasi Piala Dunia
Ilustrasi Piala Dunia

KHUTBAH JUMAT I

الحَمْدُ لِلّٰهِ أَوَّلًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ أَخِرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ مُسْتَغْرِقُ المَحَامِدِ كُلِّهَا. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الحَاثِّ عَلٰى طَاعَةِ الكَرِيْمِ الغَفَّارِ، النَّاهِي عَنِ اتِّبَاعِ الهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ وَكُلِّ ضَارٍّ. وَعَلٰى آلِهِ السَّادَةِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ الأَبْرَارِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَى، وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتُمْ، وَأَتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ. وَالْعَصْرِۙ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ إِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar diucapkan, tetapi dibuktikan dengan sikap yang selalu mengutamakan Allah daripada segala urusan dunia. Sebab kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat kembali yang kekal selama-lamanya.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita hidup pada zaman ketika hiburan dapat masuk ke rumah bahkan ke dalam genggaman tangan kita setiap saat. Berbagai pertandingan olahraga dapat disaksikan secara langsung melalui televisi maupun telepon pintar. Salah satu yang paling menyita perhatian manusia adalah perhelatan Piala Dunia.

Sepak bola pada dasarnya merupakan olahraga yang diperbolehkan dalam Islam. Bermain, berolahraga, dan menyaksikan pertandingan bukanlah sesuatu yang haram selama tidak melalaikan kewajiban kepada Allah. Islam adalah agama yang seimbang. Islam tidak melarang umatnya berolahraga, bahkan tubuh yang sehat merupakan nikmat yang harus disyukuri.

Namun persoalan muncul ketika sesuatu yang hukumnya mubah berubah menjadi penyebab manusia meninggalkan kewajiban. Ketika pertandingan sepak bola lebih ditunggu daripada azan. Ketika jadwal pertandingan lebih dihafal daripada jadwal shalat berjamaah. Ketika seseorang rela begadang berjam-jam demi menyaksikan pertandingan, tetapi berat bangun untuk melaksanakan shalat Subuh.

Inilah fenomena yang patut kita renungkan bersama.

Banyak orang merasa sedih ketika tim kesayangannya kalah. Mereka membahas pertandingan berhari-hari. Mereka menghafal nama pemain, pelatih, statistik pertandingan, bahkan sejarah setiap gelar juara. Namun ironisnya, sebagian dari mereka tidak hafal bacaan shalat dengan benar. Tidak mengetahui makna surat Al-Fatihah. Bahkan ada yang tidak mengetahui hukum meninggalkan shalat.

Bukankah ini pertanda bahwa hati mulai bergeser? Bukankah ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada dunia mulai mengalahkan kecintaan kepada Allah?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Allah Swt. telah mengingatkan kita agar tidak lalai oleh berbagai kesibukan dunia.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Ayat ini menyebut harta dan anak karena keduanya adalah sesuatu yang paling dicintai manusia. Namun para ulama menjelaskan bahwa semua bentuk kesibukan dunia yang melalaikan dari mengingat Allah juga termasuk dalam makna ayat ini. Jabatan, pekerjaan, bisnis, media sosial, hiburan, bahkan pertandingan sepak bola sekalipun, apabila membuat seseorang lalai dari shalat, maka semuanya menjadi sebab kerugian.

Kerugian yang dimaksud bukan sekadar kehilangan harta atau kesempatan dunia, melainkan kerugian akhirat yang tidak dapat diganti dengan apa pun.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Perhatikanlah keadaan di sekitar kita.

Ketika pertandingan besar berlangsung pada malam hari, banyak warung kopi, kafe, dan tempat nonton bersama dipenuhi penonton. Sebagian rela datang sejak beberapa jam sebelumnya agar memperoleh tempat terbaik.

Namun ketika azan Isya berkumandang, tidak sedikit yang tetap duduk menatap layar. Ada yang berkata, “Nanti saja setelah babak pertama selesai.” Ada pula yang berkata, “Sayang kalau ketinggalan gol.”

Padahal, siapa yang dapat menjamin bahwa ia masih hidup sampai peluit akhir pertandingan?

Betapa banyak manusia yang meninggal dunia secara tiba-tiba. Ada yang wafat ketika sedang bekerja. Ada yang wafat ketika sedang tidur. Bahkan tidak sedikit yang meninggal ketika sedang menikmati hiburan.

Kematian tidak pernah menunggu pertandingan selesai.

Yang ditanyakan di alam kubur bukanlah tim favorit kita.

Malaikat tidak akan bertanya, “Siapa juara Piala Dunia tahun ini?”

Yang pertama kali ditanyakan adalah tentang keimanan dan amal.

Lebih dari itu, amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat.

Karena itu, alangkah ruginya apabila seseorang rela kehilangan pahala shalat berjamaah demi mengejar tontonan yang beberapa hari kemudian sudah dilupakan manusia.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Allah Swt. juga berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ

Artinya: “Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak boleh ada sesuatu pun yang lebih kita cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan kepada dunia boleh ada, tetapi harus berada di bawah kecintaan kepada Allah.

Apabila sebuah pertandingan membuat kita menunda shalat, meninggalkan shalat berjamaah, lalai berzikir, melupakan keluarga, bahkan mengabaikan kewajiban agama, berarti telah terjadi kesalahan dalam menempatkan prioritas hidup.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Mari kita renungkan sebuah peristiwa yang sering terjadi.

Seseorang rela membeli paket internet berkecepatan tinggi agar pertandingan tidak terputus. Ia rela mengeluarkan uang untuk berlangganan siaran olahraga. Ia menyiapkan makanan dan minuman sejak sore hari. Ia bahkan memasang alarm agar tidak terlambat menyaksikan pertandingan.

Tetapi ketika muazin mengumandangkan azan Subuh, alarm dimatikan. Shalat ditunda. Bahkan ada yang baru bangun ketika matahari telah tinggi.

Bukankah keadaan ini sangat memprihatinkan?

Padahal pertandingan itu tidak menambah pahala.

Pertandingan itu tidak menghapus dosa.

Pertandingan itu tidak menjadi penolong di alam kubur.

Pertandingan itu tidak dapat memberikan syafaat pada hari kiamat.

Sebaliknya, shalatlah yang menjadi pembeda antara seorang mukmin dengan kekafiran. Shalatlah yang menjadi cahaya di dunia dan akhirat. Shalatlah yang menjadi sebab keberuntungan seorang hamba di hadapan Allah.

Oleh karena itu, jangan sampai sesuatu yang sifatnya hiburan mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh ibadah kepada Allah. Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap mencintai-Nya di atas segala kecintaan kepada dunia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Download Khutbah Singkat PDF

Khutbah Bahasa Jawa

Khutbah Jumat Bahasa Sunda

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP
Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.

Pos terkait