KHUTBAH JUMAT I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ، وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal selamanya.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita renungkan sebuah kisah tentang sosok yang terkenal meskipun belum dilahirkan. Sosok tersebut adalah junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ.
Jauh sebelum Nabi Muhammad ﷺ lahir ke dunia, nama dan kedatangan beliau telah menjadi bagian dari berita yang disampaikan oleh para nabi terdahulu. Bahkan Nabi Ibrahim عليه السلام pernah memohon kepada Allah agar diutus seorang rasul dari keturunannya.
Allah Swt. berfirman:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Doa Nabi Ibrahim عليه السلام tersebut bukanlah doa biasa. Berabad-abad sebelum Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan, seorang nabi mulia telah memohon agar kelak muncul seorang rasul dari keturunannya.
Kemudian Nabi Isa عليه السلام juga memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ. Allah Swt. berfirman:
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
“Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat, dan memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad.’ Tetapi ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (QS. Ash-Shaff: 6)
Maka, sebelum kaki Nabi Muhammad ﷺ menginjak bumi, sebelum suara beliau terdengar oleh manusia, bahkan sebelum beliau dilahirkan oleh Sayyidah Aminah, kedatangannya telah menjadi kabar yang dinanti dalam rangkaian risalah para nabi.
Subhanallah!
Beliau belum lahir, tetapi sudah dikenal. Belum hadir di tengah manusia, tetapi sudah diberitakan. Belum berbicara kepada umatnya, tetapi kedatangannya sudah menjadi kabar gembira.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ sendiri pernah menjelaskan kedudukan beliau melalui sebuah hadis:
إِنِّي عِنْدَ اللَّهِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ، وَسَأُخْبِرُكُمْ بِأَوَّلِ ذَلِكَ: دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى بِي، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ
“Sesungguhnya aku di sisi Allah telah tercatat sebagai penutup para nabi, sedangkan Adam masih dalam bentuk tanah. Aku akan memberitahukan kepada kalian awal dari perkara itu: aku adalah doa ayahku Ibrahim, kabar gembira Isa tentang diriku, dan mimpi ibuku yang dilihatnya.” (HR. Ahmad)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kalau kita renungkan, ada pelajaran yang sangat dalam dari kisah tersebut.
Hari ini manusia berlomba-lomba menjadi terkenal.
Ada yang ingin terkenal di media sosial. Ada yang mengejar jutaan pengikut. Ada yang ingin namanya muncul di berbagai platform. Ada yang merasa bahagia ketika unggahannya mendapatkan ribuan tanda suka dan komentar.
Tidak sedikit orang rela melakukan apa saja agar namanya dikenal.
Tetapi Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukanlah tentang seberapa banyak manusia mengenal nama kita, melainkan seberapa besar manfaat dan kebaikan yang kita tinggalkan.
Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mengejar popularitas. Beliau tidak membangun dakwah untuk mendapatkan pujian manusia. Beliau bahkan menghadapi hinaan, cacian, penolakan, dan ancaman. Namun Allah mengangkat nama beliau. Allah Swt. berfirman:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami telah meninggikan sebutan namamu bagimu.”
(QS. Al-Insyirah: 4)
Lihatlah jamaah sekalian!
Nama Nabi Muhammad ﷺ disebut dalam azan. Disebut dalam iqamah. Disebut dalam khutbah. Disebut ketika seseorang membaca syahadat. Disebut ketika umat Islam bershalawat. Bahkan setiap hari, di berbagai penjuru dunia, jutaan manusia mengucapkan nama beliau.
Beliau tidak mengejar ketenaran, tetapi Allah yang meninggikan namanya. Sementara kita sering kali mengejar agar manusia mengenal kita, tetapi lupa bertanya:
Apakah Allah mengenal kita sebagai hamba yang bertakwa?
Kita ingin dikenal manusia sebagai orang sukses, tetapi apakah kita dikenal sebagai orang yang jujur?
Kita ingin dikenal sebagai orang kaya, tetapi apakah kita dikenal sebagai orang yang suka bersedekah?
Kita ingin dikenal sebagai orang berilmu, tetapi apakah ilmu kita bermanfaat?
Kita ingin dihormati di tengah masyarakat, tetapi apakah keluarga kita merasakan akhlak mulia dari diri kita?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Inilah yang perlu kita renungkan. Rasulullah ﷺ terkenal bukan karena pencitraan, tetapi karena akhlaknya.
Beliau dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi.
Ketika orang lain menyakiti beliau, beliau tidak membalas dengan keburukan.
Ketika penduduk Thaif menolak dakwah beliau dan bahkan menyakitinya, beliau tidak mendoakan kehancuran mereka. Justru beliau berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah. Inilah akhlak Nabi Muhammad ﷺ.
Maka jangan sampai kita menjadi orang yang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi lisan kita masih mudah menyakiti orang lain.
Jangan sampai kita rajin bershalawat, tetapi masih gemar memfitnah. Jangan sampai kita merayakan kelahiran Nabi, tetapi akhlak Nabi tidak hadir dalam kehidupan kita. Jangan sampai nama Muhammad ﷺ sering kita sebut, tetapi ajarannya jarang kita ikuti.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah masyarakat saat ini, kita melihat betapa mudahnya perselisihan terjadi hanya karena perbedaan pendapat. Persoalan kecil dapat menjadi pertengkaran besar. Perbedaan pilihan dapat membuat hubungan keluarga renggang. Perbedaan pandangan di media sosial bahkan dapat membuat seseorang mencaci dan merendahkan saudaranya sendiri.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kasih sayang.
Beliau bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi)
Betapa relevannya hadis ini dengan kehidupan kita hari ini.
Jari kita bisa mengetik lebih cepat daripada hati kita berpikir. Satu komentar dapat menyakiti orang lain. Satu unggahan dapat menyebarkan fitnah kepada ribuan orang. Satu berita yang belum tentu benar dapat kita teruskan tanpa tabayun.
Karena itu, jika kita benar-benar mencintai Nabi Muhammad ﷺ, mari kita bawa akhlak beliau ke dalam kehidupan nyata.
Di rumah, jadilah orang yang lembut.
Di tempat kerja, jadilah orang yang jujur.
Di masyarakat, jadilah orang yang bermanfaat.
Di media sosial, jadilah orang yang menjaga lisan dan tulisan.
Dan ketika berbeda pendapat, jangan kehilangan akhlak.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok yang namanya dikenal sebelum beliau dilahirkan. Tetapi yang jauh lebih penting bagi kita bukan sekadar mengetahui kisah kelahiran beliau.
Yang lebih penting adalah menjadikan beliau sebagai teladan kehidupan. Allah Swt. berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari Akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita bukan hanya umat yang mengenal nama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi umat yang benar-benar mencintai, mengikuti sunnah, meneladani akhlak, dan memperjuangkan ajaran beliau.
Semoga ketika nama kita tidak lagi disebut manusia, amal kebaikan kita tetap mengalir.
Semoga ketika kita telah meninggalkan dunia, anak-anak kita masih mengenang kebaikan kita.
Dan semoga ketika kita menghadap Allah Swt., kita dikumpulkan bersama Rasulullah ﷺ di dalam surga-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَارْزُقْنَا حُبَّهُ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالْعَمَلَ بِهَدْيِهِ، وَاجْمَعْنَا مَعَهُ فِي جَنَّتِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.





