Khutbah Jumat Bahasa Sunda PDF: Kebakaran Hutan, Kekeringan, dan Teguran Allah

KHUTBAH JUMAT I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَاسْتَعْمَرَهُ فِي الْأَرْضِ، وَأَنْعَمَ عَلَيْهِ بِنِعَمٍ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَجَعَلَ الْمَاءَ سَبَبًا لِحَيَاةِ الْأَرْضِ وَالْإِنْسَانِ وَسَائِرِ الْمَخْلُوقَاتِ

نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ وَفَضْلِهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ ذُنُوبِنَا وَتَقْصِيرِنَا، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

Bacaan Lainnya

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya ketika berada di masjid, tetapi juga ketika kita mengelola tanah, menggunakan air, menebang pohon, membuang sampah, dan menjalankan amanah sebagai manusia di muka bumi.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita menyaksikan berbagai peristiwa yang seharusnya menggugah hati. Hutan terbakar, lahan mengering, sumber air menyusut, sawah kesulitan mendapatkan air, dan sebagian masyarakat harus menghadapi panas yang semakin menyengat.

Ketika hujan tidak kunjung turun, ketika sungai mulai dangkal, ketika sumur semakin sulit mendapatkan air, kita sering bertanya, “Mengapa semua ini terjadi?”

Al-Qur’an mengingatkan kita:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini bukan berarti setiap kebakaran atau kekeringan boleh langsung kita vonis sebagai hukuman Allah kepada orang tertentu. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik sebuah musibah.

Namun, musibah semestinya menjadi teguran dan kesempatan untuk melakukan introspeksi.

Jangan sampai ketika hutan terbakar kita hanya menghitung kerugian. Jangan sampai ketika kekeringan melanda kita hanya mengeluh tentang panasnya. Tetapi kita lupa bertanya kepada diri sendiri:

Apakah selama ini kita telah menjaga amanah Allah terhadap bumi?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah telah memberikan alam yang indah kepada manusia. Hutan menyediakan udara, menyimpan air, menjaga tanah dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk. Tetapi ketika hutan dibakar sembarangan, ketika pohon ditebang tanpa memperhatikan kelestarian, ketika lingkungan diperlakukan hanya sebagai sumber keuntungan, keseimbangan alam dapat terganggu.

Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan sosial. Ia juga merupakan bagian dari amanah agama.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita sering menganggap air sebagai sesuatu yang tidak akan pernah habis. Keran dibuka begitu saja. Air dibiarkan mengalir ketika mencuci kendaraan. Sumur dipompa tanpa memperhatikan keadaan lingkungan. Sampah dibuang ke sungai, kemudian ketika banjir atau kekeringan datang kita bertanya, mengapa keadaan semakin sulit?

Rasulullah SAW mengajarkan agar kita tidak berlebihan menggunakan air. Bahkan ketika berwudu, beliau tidak mengajarkan pemborosan.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi SAW melewati Sa’d yang sedang berwudu, lalu beliau bersabda:

مَا هَذَا السَّرَفُ؟

Sa’d bertanya, “Apakah dalam wudu juga ada pemborosan?”

Beliau menjawab:

نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ

“Ya, sekalipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah)

Lihatlah, jamaah sekalian.

Ketika air melimpah pun Rasulullah mengajarkan agar tidak boros. Apalagi ketika saudara-saudara kita sedang mencari air untuk minum, memasak, mandi, memberi minum ternak, dan mengairi sawah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kebakaran hutan dan kekeringan seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh.

Ketika langit belum menurunkan hujan, mungkin Allah sedang mengajarkan kepada kita arti sebuah tetes air. Ketika tanah menjadi kering, mungkin Allah sedang mengingatkan bahwa selama ini kita terlalu sering melupakan nikmat-Nya.

Ketika sumber air mengecil, mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa sesuatu yang selama ini kita anggap biasa ternyata merupakan karunia yang luar biasa.

Maka jangan hanya meminta hujan turun. Mintalah juga agar hati kita diturunkan hujan rahmat.

Jangan hanya berharap tanah kembali basah. Berharaplah agar hati kita kembali lembut setelah sekian lama mengeras oleh dosa.

Jangan hanya takut melihat hutan terbakar. Takutlah ketika dosa-dosa kita terus membakar kehidupan kita, sementara kita tidak pernah merasa perlu bertobat.

Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa iman dan takwa bukan hanya mendatangkan keselamatan di akhirat, tetapi juga menjadi sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Maka mari kita mulai dari hal-hal sederhana. Jangan membakar hutan dan lahan sembarangan. Jangan membuang sampah ke sungai. Jangan boros menggunakan air. Tanamlah pohon jika mampu. Jagalah sumber mata air. Ingatkan keluarga dan anak-anak kita untuk mencintai lingkungan.

Dan yang paling penting, perbanyak istighfar dan tinggalkan kemaksiatan.

Sebab ketika musibah datang, orang beriman tidak hanya mencari siapa yang harus disalahkan. Tetapi ia akan menundukkan kepala dan berkata:

“Ya Allah, mungkin kami telah banyak lalai. Maka ampuni kami. Perbaiki kami. Selamatkan bumi kami. Turunkanlah hujan-Mu sebagai rahmat, bukan sebagai azab.”

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menjaga negeri kita dari kebakaran, kekeringan dan berbagai bencana, serta menjadikan hujan yang turun sebagai rahmat dan keberkahan bagi seluruh makhluk.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH II

  اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.    

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ  

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Download Khutbah Singkat PDF

Khutbah Bahasa Indonesia

Khutbah Bahasa Jawa

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP
Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.

Pos terkait