Naskah Khutbah Jumat Singkat: Hentikan Bullying, Lindungi Anak Kita (Bahasa Indonesia)

Ilsutrasi Bullying Anak
Ilsutrasi Bullying Anak

KHUTBAH JUMAT I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْإِيذَاءِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Bacaan Lainnya

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita mendidik diri, keluarga, dan anak-anak kita agar tumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, serta mampu memberikan rasa aman kepada sesama.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini, marilah kita merenungkan satu persoalan yang semakin mengkhawatirkan di tengah masyarakat, yaitu perundungan atau bullying terhadap anak-anak. Perundungan bukan sekadar ejekan, bukan sekadar candaan, dan bukan pula hal biasa yang harus diterima anak sebagai bagian dari proses tumbuh dewasa. Perundungan dapat meninggalkan luka mendalam yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa bertahun-tahun di dalam jiwa.

Ada anak yang setiap pagi berangkat sekolah dengan wajah murung karena takut bertemu teman-temannya. Ada anak yang diejek karena tubuhnya, warna kulitnya, kondisi ekonominya, cara bicaranya, atau keadaan keluarganya. Ada pula anak yang menjadi sasaran penghinaan di grup WhatsApp dan media sosial, sementara orang-orang yang menyaksikannya justru tertawa dan ikut menyebarkan.

Wahai kaum Muslimin,

Bayangkan jika anak yang diejek itu adalah anak kita sendiri. Bagaimana perasaan kita ketika mengetahui anak kita menangis diam-diam, kehilangan kepercayaan diri, takut berangkat sekolah, bahkan merasa dirinya tidak berharga? Tentu hati kita akan hancur.

Maka, janganlah kita melakukan kepada anak orang lain sesuatu yang tidak ingin kita alami sendiri pada anak kita.

Allah SWT telah memberikan peringatan tegas dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa merendahkan orang lain bukanlah akhlak orang beriman. Jangan sampai lisan yang seharusnya digunakan untuk berdzikir justru menyakiti hati sesama. Jangan sampai jari-jari yang seharusnya digunakan untuk menyebarkan kebaikan justru dipakai untuk menghina, mempermalukan, dan menyebarkan aib orang lain di media sosial.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa seorang Muslim sejati tidak menyakiti orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatannya. Beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini seharusnya menjadi pedoman dalam mendidik anak-anak kita. Ajarkan kepada mereka bahwa kekuatan bukan untuk menindas, kepandaian bukan untuk merendahkan, dan keberanian bukan untuk menakut-nakuti orang lain. Anak yang hebat bukanlah anak yang ditakuti teman-temannya, melainkan anak yang membuat teman-temannya merasa aman.

Karena itu, ada tiga hal penting yang harus kita lakukan bersama.

Pertama, bagi orang tua dan keluarga. Jadilah tempat paling aman bagi anak untuk bercerita. Jangan terburu-buru memarahi ketika anak mengeluh, jangan menganggap remeh ketika ia mengatakan dirinya diejek, dan jangan selalu berkata, “Begitu saja kok menangis!” Dengarkanlah dengan penuh kasih sayang. Ajarkan anak menghormati perbedaan, meminta maaf ketika bersalah, serta berani melapor ketika mengalami atau menyaksikan perundungan.

Ingatlah, anak belajar bukan hanya dari nasihat kita, tetapi juga dari perilaku kita. Jika di rumah orang tua terbiasa menghina, membentak, atau mempermalukan anak, jangan heran jika anak menganggap perilaku itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kedua, bagi sekolah, guru, dan lingkungan masyarakat. Jangan menutup mata ketika melihat perundungan. Jangan menganggapnya sebagai urusan anak-anak semata. Ketika ada anak yang dihina, dikucilkan, dipukul, atau dipermalukan, kita harus hadir untuk melindungi, bukan malah menonton dan tertawa.

Jika mengetahui perundungan, hentikan dengan cara yang aman, dampingi korban, laporkan kepada pihak yang bertanggung jawab, dan bina pelaku agar menyadari kesalahannya. Perlindungan terhadap korban harus diutamakan, sementara penanganan pelaku perlu dilakukan secara tegas, adil, dan mendidik.

Ketiga, bagi anak-anak dan para remaja. Jangan pernah merasa hebat karena berhasil membuat teman menangis. Jangan ikut-ikutan mengejek hanya karena semua teman melakukannya. Jangan menyebarkan video penghinaan atau komentar yang merendahkan seseorang. Jika melihat teman dirundung, bantulah dengan cara yang aman dan laporkan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya.

Ketahuilah, satu kalimat penghinaan mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi luka yang ditinggalkannya bisa bertahan sangat lama. Sebaliknya, satu kalimat dukungan, satu uluran tangan, dan satu keberanian untuk membela yang lemah dapat menjadi alasan seseorang kembali percaya kepada dirinya sendiri.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita jadikan rumah sebagai tempat anak belajar kasih sayang, sekolah sebagai tempat tumbuhnya penghormatan, dan lingkungan masyarakat sebagai ruang yang aman bagi setiap anak.

Jangan menunggu anak kita menjadi korban baru kita peduli. Jangan menunggu ada anak yang mengalami penderitaan mendalam baru kita bergerak. Pencegahan harus dimulai sekarang, dari rumah kita, dari cara kita berbicara, dari cara kita mendidik, dan dari keberanian kita menghentikan perilaku yang menyakiti sesama.

Semoga Allah SWT menjadikan anak-anak kita generasi yang beriman, berakhlak mulia, saling menghormati, dan jauh dari perilaku zalim. Semoga Allah melembutkan hati kita agar tidak mudah menyakiti, menguatkan keberanian kita untuk membela yang lemah, serta membimbing kita menjadi orang tua dan masyarakat yang benar-benar melindungi anak-anak.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ،

KHUTBAH II

  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ  

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ  

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Download Khutbah Singkat PDF

Khutbah Bahasa Jawa

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP
Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.

Pos terkait