Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberi kita kesempatan menikmati puasa hari ke-7 dan bersiap memasuki hari ke-8 Ramadhan. Tidak semua orang yang memulai Ramadhan bersama kita masih diberi umur hingga hari ini. Ada yang telah dipanggil lebih dahulu menghadap-Nya. Maka, kesempatan ini adalah nikmat yang tak ternilai.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan terbaik dalam menjalani Ramadhan dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan cinta kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Memasuki hari ke-7 Ramadhan, semangat kita mungkin mulai diuji. Di awal Ramadhan, masjid penuh, tilawah lancar, sedekah ringan dilakukan. Namun seiring hari berjalan, rasa lelah mulai terasa. Di sinilah letak nilai perjuangan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan hati dari kelalaian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah takwa. Bukan sekadar lapar, bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi membentuk hati yang takut dan cinta kepada Allah. Takwa itu tumbuh perlahan. Ia tidak instan. Ia lahir dari kesabaran, dari kejujuran, dari kesungguhan menjaga diri meski tidak ada manusia yang melihat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan dua syaratnya: iman dan ihtisab (mengharap pahala). Artinya, puasa harus dilakukan dengan kesadaran bahwa kita sedang beribadah kepada Allah, dan dengan harapan tulus agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Hari ke-7 ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: apakah puasa kita masih disertai iman yang hidup? Apakah kita masih merasakan harap yang besar akan ampunan Allah? Ataukah puasa kita mulai terasa biasa, sekadar rutinitas tanpa getaran hati?
Jamaah sekalian,
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Sudahkah interaksi kita dengan Al-Qur’an meningkat? Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan. Jika selama tujuh hari ini kita belum maksimal, masih ada sisa hari-hari Ramadhan. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa bekas di hati kita.
Bayangkan, jika ini adalah Ramadhan terakhir kita. Apakah kita rela menghadap Allah dengan tilawah yang minim, sedekah yang sedikit, dan doa yang jarang terucap? Hati orang beriman akan selalu merasa kurang dalam ibadahnya, bukan merasa cukup.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sungguh celaka seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini sangat menggugah. Betapa meruginya orang yang menjalani Ramadhan, tetapi tidak mendapatkan ampunan. Padahal pintu rahmat dibuka lebar, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup.
Di hari ke-7 menuju hari ke-8 ini, mari kita perbaiki niat. Mari kita hidupkan malam-malam kita, meski hanya dua rakaat dengan penuh kekhusyukan. Mari kita perbanyak istighfar, karena kita tidak tahu dosa mana yang menghalangi doa kita.
Ramadhan juga melatih empati. Ketika kita menahan lapar, kita belajar merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Jangan sampai puasa kita hanya menahan lapar, tetapi hati kita tetap keras terhadap orang lain.
Perbanyak sedekah, meski sedikit. Senyumkan wajah orang tua, bahagiakan anak-anak, ringankan beban tetangga. Karena bisa jadi, amal kecil yang kita anggap remeh justru menjadi sebab turunnya ampunan Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Waktu berjalan begitu cepat. Tujuh hari telah berlalu. Tidak akan kembali. Yang tersisa adalah amal yang telah kita lakukan. Maka, jangan tunda kebaikan. Jangan tunggu sepuluh hari terakhir baru bersungguh-sungguh. Justru dari sekaranglah kita latih hati kita agar siap menyambut malam-malam penuh kemuliaan.
Semoga di hari ke-7 ini, Allah melembutkan hati kita. Semoga di hari ke-8 nanti, iman kita semakin kuat. Dan semoga Ramadhan kali ini benar-benar mengubah kita menjadi hamba yang lebih taat, lebih sabar, dan lebih mencintai Allah.
Mari kita tutup dengan doa:
Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami di tujuh hari yang telah berlalu. Kuatkan kami untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan penuh keikhlasan. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi di bulan Ramadhan. Jadikan puasa kami puasa yang Engkau terima, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW






