Kultum Ramadhan Hari ke-11 Menuju Hari ke-12: Menjaga Hati Tetap Hidup di Hari Ke-11 Ramadhan

Menjaga Hati Tetap Hidup di Hari ke-11 Ramadhan
Menjaga Hati Tetap Hidup di Hari ke-11 Ramadhan

MATERI KULTUM RAMADHAN SINGKAT

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita kesempatan menapaki puasa hari ke-11 dan bersiap memasuki hari ke-12 Ramadhan. Tidak terasa, kita telah melewati sepuluh hari pertama yang penuh rahmat. Kini kita berada di pertengahan perjalanan menuju ampunan Allah.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Bacaan Lainnya

Jamaah yang dirahmati Allah,

Memasuki hari ke-11 ini, biasanya semangat mulai mengalami pasang surut. Di awal Ramadhan kita begitu berapi-api. Masjid penuh, tilawah lancar, sedekah mudah dilakukan. Namun kini, rasa lelah mulai terasa. Di sinilah kita diuji: apakah ibadah kita hanya semangat sesaat, atau benar-benar lahir dari hati yang hidup?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini seperti teguran lembut untuk kita. Ramadhan seharusnya membuat hati kita lebih lembut, lebih khusyuk, lebih mudah menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Jika hati masih keras, mungkin kita perlu memperbanyak istighfar.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً

“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan setiap semangat itu ada masa lemahnya.” (HR. Ahmad)

Hadits ini sangat relevan di hari ke-11 ini. Jika kita merasa semangat mulai menurun, jangan berhenti. Turunkan ritme, tetapi jangan tinggalkan amal. Teruslah melangkah walau perlahan.

Jamaah sekalian,

Izinkan saya menyampaikan kisah inspiratif dari sahabat mulia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas, kuat, dan berwibawa. Namun di balik ketegasannya, hatinya sangat lembut terhadap kebenaran.

Dikisahkan bahwa suatu malam, Umar berkeliling Madinah untuk memastikan keadaan rakyatnya. Ia mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah. Ketika ia mendekat, ia melihat seorang ibu sedang memasak sesuatu di atas api. Namun ternyata, di dalam panci itu hanya air dan batu. Sang ibu berpura-pura memasak agar anak-anaknya tertidur karena lelah menunggu makanan yang tidak ada.

Mendengar itu, Umar menangis. Ia segera kembali ke baitul mal, memikul sendiri gandum di pundaknya. Ketika ajudannya ingin membantu, Umar berkata, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?” Lalu ia sendiri yang mengantarkan makanan itu ke rumah wanita tersebut dan memasakkannya hingga anak-anak itu kenyang.

Inilah buah dari hati yang hidup. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melahirkan empati dan kepedulian. Jika puasa kita benar, maka kita akan lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Allah berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Hari ke-11 adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas sedekah kita. Jangan tunggu sepuluh hari terakhir saja. Bisa jadi ada doa orang miskin yang menjadi sebab ampunan kita.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan juga bulan Al-Qur’an. Sudahkah kita memperbaiki interaksi kita dengan kitab suci ini? Jangan sampai sebelas hari berlalu tanpa tilawah yang berarti. Satu halaman yang dibaca dengan tadabbur lebih baik daripada banyak halaman tanpa perenungan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa itu adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perisai dari apa? Dari dosa, dari api neraka, dari hawa nafsu. Namun perisai hanya berfungsi jika tidak kita rusak sendiri dengan ghibah, dusta, dan kemarahan.

Memasuki hari ke-12 esok, mari kita niatkan untuk memperbaiki kualitas, bukan sekadar kuantitas. Perbaiki shalat kita. Perbaiki doa kita. Perbaiki hubungan kita dengan keluarga. Karena ibadah yang paling berat terkadang bukan berdiri lama dalam shalat, tetapi menahan amarah dan memaafkan.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bayangkan jika Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kita. Apakah kita sudah benar-benar berubah? Apakah kebiasaan baik ini akan kita pertahankan setelah Ramadhan berakhir?

Jangan sampai kita hanya menjadi hamba yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, tetapi kembali lalai setelahnya. Jadikan hari ke-11 dan ke-12 ini sebagai momentum kebangkitan hati.

Mari kita perbanyak doa:

Ya Allah, lembutkan hati kami sebagaimana Engkau lembutkan hati para sahabat-Mu. Jadikan puasa kami bukan hanya menahan lapar, tetapi membersihkan jiwa. Kuatkan kami untuk terus beramal hingga akhir Ramadhan, bahkan hingga akhir hayat kami.

Ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin. Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau ampuni di bulan yang mulia ini.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Download Khutbah Singkat PDF

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW

Pos terkait