KHUTBAH JUMAT I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا¸ مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan sejati bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta kesungguhan dalam memperbaiki diri.
Hadirin Rahimakumullah,
Khutbah kita pada hari ini mengangkat tema: “Jangan Menunggu Ilmu Sempurna untuk Shalat, tetapi Shalatlah Sambil Terus Menuntut Ilmu.” Tema ini penting untuk kita renungkan bersama, agar kita memahami bahwa dalam ajaran Islam, menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu bukanlah dua perkara yang dipisahkan, melainkan dua amal yang berjalan beriringan.
Hadirin Rahimakumullah…
Di tengah masyarakat terkadang muncul ungkapan yang terdengar bijak, namun jika dipahami secara keliru dapat menyeret seseorang kepada sikap meremehkan syariat. Mungkin kita perna mendengar ungkapan seperti ini: “Pelajarilah terlebih dahulu hakikat shalat. Jangan sampai shalat hanya menjadi rangkaian gerakan tanpa makna. Untuk apa sering datang ke masjid jika belum memahami hakikat shalat?”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, kalimat seperti ini perlu diluruskan dengan ilmu dan hikmah.
Benar bahwa shalat bukan sekadar gerakan.
Benar bahwa seorang muslim wajib berusaha menghadirkan hati dan memahami bacaan shalat.
Akan tetapi, tidak benar apabila pemahaman tentang hakikat shalat dijadikan alasan untuk menunda atau meremehkan kewajiban shalat.
Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk memahami seluruh rahasia ibadah terlebih dahulu, kemudian baru mengerjakannya. Justru Allah memerintahkan kita beribadah, lalu melalui ibadah itulah Allah mendidik hati kita, membersihkan jiwa kita, dan menambah ilmu serta ketakwaan kita.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Perhatikanlah ayat ini…
Allah memerintahkan, “Dirikanlah shalat.” Tidak ada syarat yang mengatakan, “Pahamilah dahulu seluruh hakikatnya.” Perintah Allah adalah segera menegakkan shalat, lalu terus memperbaiki kualitasnya sepanjang hidup.
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat merupakan jalan menuju perbaikan. Kalau hari ini kita masih banyak dosa, jangan tinggalkan shalat. Kalau hati kita masih keras, jangan tinggalkan shalat. Kalau kita belum khusyuk, jangan tinggalkan shalat. Justru shalatlah yang menjadi sebab Allah memperbaiki hati kita sedikit demi sedikit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah hadits ini sangat jelas. Rasulullah ﷺ menjadikan shalat sebagai salah satu tiang utama Islam. Beliau tidak memerintahkan para sahabat menunggu sampai memahami seluruh rahasia shalat sebelum mendirikannya.
Mereka diperintah untuk shalat, kemudian Nabi ﷺ terus membimbing mereka agar shalat mereka semakin baik dan semakin khusyuk.
Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh menunda ketaatan hanya karena merasa belum sempurna. Ia mengerjakan apa yang mampu dikerjakan, sambil terus belajar dan memperbaiki diri.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ilmu dan amal tidak boleh dipisahkan. Ilmu tanpa amal akan menjadi hujjah atas pelakunya, sedangkan amal tanpa ilmu dapat menjerumuskan kepada kesalahan. Oleh karena itu, jalan yang benar adalah belajar sambil beramal, dan beramal sambil terus belajar.
Bayangkan apabila seorang anak berkata, “Aku akan belajar berenang setelah aku pandai berenang.” Tentu itu mustahil. Demikian pula seseorang yang berkata, “Aku akan shalat setelah memahami seluruh hakikat shalat.”
Sampai kapan ia akan menunggu? Tidak ada seorang ulama pun yang mengaku telah mengetahui seluruh rahasia ibadah. Bahkan para imam besar setiap hari memohon kepada Allah agar ditambah ilmu dan diberi keikhlasan.
Salah satu kisah yang sangat mengharukan adalah kisah taubatnya Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah.
Dahulu beliau dikenal sebagai seorang perampok.
Suatu malam beliau mendengar seseorang membaca firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 16:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
Mendengar ayat itu beliau menangis dan berkata, “Benar, wahai Rabbku. Sungguh telah tiba waktunya.”
Sejak saat itu beliau meninggalkan maksiat dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya beliau menjadi seorang imam besar yang terkenal dengan kezuhudan dan ilmunya.
(Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam kitab Hilyat al-Auliya’ dan juga disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’.)
Perhatikanlah, Fudhail tidak berkata, “Aku akan berubah nanti setelah aku memahami seluruh hakikat agama.”
Tetapi beliau segera kembali kepada Allah. Setelah taubat dan amal dimulai, Allah membukakan pintu ilmu, hikmah, dan kemuliaan baginya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Janganlah kita memandang rendah orang yang datang ke masjid setiap hari meskipun ia belum sempurna. Mungkin bacaannya masih terbata-bata. Mungkin kekhusyukannya masih naik turun. Namun ia datang membawa harapan agar Allah membimbingnya. Bukankah itu lebih baik daripada seseorang yang merasa telah memahami hakikat, tetapi justru menjauh dari rumah Allah?
Masjid bukan hanya tempat orang-orang shaleh. Masjid adalah tempat orang-orang yang ingin menjadi shaleh.
Shalat bukan hadiah bagi orang yang sudah suci. Shalat adalah rahmat Allah agar manusia yang penuh dosa memiliki jalan untuk kembali kepada-Nya.
Karena itu, marilah kita menjaga shalat lima waktu, memakmurkan masjid, memperbaiki kekhusyukan, mempelajari makna bacaan shalat, dan terus memohon kepada Allah agar setiap rukuk dan sujud menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita.
Jangan menunggu hati menjadi lembut untuk bersujud, sebab hati justru menjadi lembut karena sering bersujud.
Jangan menunggu memahami seluruh hakikat shalat untuk datang ke masjid, sebab banyak rahasia shalat yang baru Allah bukakan setelah seorang hamba istiqamah menjaganya.
Sebab kelak, ketika kita telah berada di dalam liang kubur, bukan lagi ilmu yang belum sempat diamalkan yang akan menyelamatkan kita, melainkan amal shaleh yang dikerjakan dengan ikhlas sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tidak pernah lalai menjaga shalat, yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, yang tidak pernah lelah menuntut ilmu, dianugerahi keikhlasan untuk mengamalkan setiap ilmu yang dipelajari, serta Istiqomah di atas jalan ketaatan hingga hembusan napas terakhir dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin..
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.




