Download Khutbah Jumat Bahasa Indonesia: Merdeka di Dunia dan di Akhirat

ilustrasi kemerdekaan
ilustrasi kemerdekaan

KHUTBAH JUMAT I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Bacaan Lainnya

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, hanya dengan takwa kita akan memperoleh kehidupan yang benar-benar merdeka, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Beberapa hari lagi bangsa kita memperingati hari kemerdekaan. Kita bersyukur kepada Allah karena Indonesia telah terbebas dari penjajahan. Para pendahulu kita berjuang dengan harta, tenaga, bahkan nyawa demi sebuah kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah nikmat besar. Dengan kemerdekaan, kita dapat beribadah dengan tenang, mencari nafkah, mendidik anak, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan tanpa berada di bawah penindasan bangsa lain.

Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan:

Apakah seseorang benar-benar merdeka hanya karena negaranya telah merdeka?

Belum tentu. Seseorang bisa hidup di negara yang merdeka, tetapi hatinya masih menjadi tawanan hawa nafsu. Tubuhnya bebas berjalan ke mana saja, tetapi pikirannya diperbudak keinginan dunia. Tangannya bebas memegang apa saja, tetapi tidak mampu menahan diri dari mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Ada orang yang merdeka dari penjajahan manusia, tetapi belum merdeka dari penjajahan dosa.

Ada orang yang tidak dijajah oleh manusia, tetapi dijajah oleh kemarahan.

Ada yang tidak diperbudak oleh manusia, tetapi diperbudak oleh uang.

Ada yang bebas dari penjajahan fisik, tetapi tidak bebas dari kesombongan, iri hati, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Swt. berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ۝ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ ۝ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62–64)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan manusia. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati kita terbebas dari ketakutan yang berlebihan kepada selain Allah, dan hidup kita berada dalam keimanan serta ketakwaan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita melihat keadaan masyarakat kita hari ini. Kita menyaksikan orang bekerja keras mengejar uang. Itu bukan sesuatu yang salah. Islam bahkan menganjurkan umatnya bekerja dan mencari rezeki yang halal.

Tetapi persoalannya adalah ketika uang yang seharusnya menjadi alat justru berubah menjadi tuan. Ketika demi uang seseorang meninggalkan salat. Ketika demi keuntungan seseorang menipu. Ketika demi mendapatkan jabatan seseorang menjatuhkan saudaranya. Ketika demi gaya hidup seseorang rela berutang tanpa perhitungan.

Ketika demi terlihat sukses di media sosial, seseorang memaksakan kehidupan yang sebenarnya tidak mampu ia jalani. Inilah bentuk penjajahan baru.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya: “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang kaya hati adalah orang yang merdeka.

Ia memiliki sedikit tetapi bersyukur. Ia memiliki banyak tetapi tidak sombong. Ia kehilangan sesuatu tetapi tidak putus asa. Ia dipuji tetapi tidak terbang. Ia dicela tetapi tidak runtuh.

Karena hatinya tidak bergantung kepada manusia. Hatinya bergantung kepada Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemerdekaan juga berarti mampu membebaskan diri dari dosa. Ada orang yang setiap kali berbuat dosa berkata, “Saya tidak bisa berhenti.” Ia ingin berhenti, tetapi terus mengulangi.

Ia tahu bahwa ghibah itu dosa, tetapi tetap membicarakan keburukan orang lain. Ia tahu bahwa fitnah itu dosa, tetapi tetap menyebarkan berita yang belum jelas.

Ia tahu bahwa melihat sesuatu yang haram itu dilarang, tetapi tetap membuka dan menikmatinya melalui telepon genggam.

Ia tahu bahwa korupsi, mencuri, menipu dan mengambil hak orang lain itu haram, tetapi tetap melakukannya karena merasa tidak ada yang melihat. Padahal Allah melihat semuanya. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan menuju akhirat.

Karena itu, jangan sampai kita sibuk memperjuangkan kemerdekaan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kemerdekaan akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Lalu bagaimana kemerdekaan di akhirat? Kemerdekaan di akhirat adalah ketika kita terbebas dari siksa Allah dan mendapatkan keselamatan serta rahmat-Nya.

Di dunia kita mungkin bangga memiliki rumah. Kita bangga memiliki kendaraan. Kita bangga memiliki jabatan. Kita bangga memiliki tabungan. Namun semua itu akan kita tinggalkan.

Yang akan menemani kita bukan rumah, bukan kendaraan, bukan jabatan, dan bukan harta. Yang menemani kita adalah amal.

Rasulullah saw. bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Artinya: “Tiga perkara mengikuti mayit: keluarganya, hartanya dan amalnya. Dua di antaranya kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jamaah sekalian, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sudah kita siapkan untuk kehidupan setelah kematian?

Sudahkah kita menjaga salat? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan orang tua? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti? Sudahkah kita mengembalikan hak orang lain? Sudahkah kita mendidik anak-anak kita agar mengenal Allah? Sudahkah kita memperbanyak amal sebelum datang hari ketika kita tidak lagi mampu menambah amal?

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemerdekaan dunia harus kita syukuri. Tetapi jangan berhenti pada perayaan. Jadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memerdekakan diri.

Merdekakan hati dari iri dan dengki. Merdekakan lisan dari dusta, fitnah dan ghibah. Merdekakan tangan dari mengambil hak orang lain.

Merdekakan mata dari melihat yang haram. Merdekakan pikiran dari prasangka buruk. Merdekakan diri dari keserakahan. Dan yang paling penting, merdekakan diri dari segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah Swt.

Sebab orang yang benar-benar merdeka bukanlah orang yang bisa melakukan apa saja yang ia inginkan.

Orang yang benar-benar merdeka adalah orang yang mampu berkata “tidak” kepada hawa nafsunya ketika hawa nafsu mengajaknya kepada kemaksiatan.

Orang yang merdeka bukan orang yang bebas berbuat dosa. Orang yang merdeka adalah orang yang tidak mau diperbudak oleh dosa.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Semoga ketika kita memperingati kemerdekaan bangsa ini, kita juga semakin sadar untuk memperjuangkan kemerdekaan diri.

Semoga kita menjadi manusia yang merdeka di dunia: hidup dengan iman, bekerja dengan halal, memiliki hati yang lapang, dan tidak diperbudak oleh dunia.

Dan semoga kita mendapatkan kemerdekaan di akhirat: terbebas dari siksa, memperoleh ampunan Allah, serta dikumpulkan bersama orang-orang saleh di dalam surga-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

KHUTBAH II

  اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.    

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Download Khutbah Singkat PDF

Khutbah Bahasa Jawa

Khutbah Jumat Bahasa Sunda

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP
Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.

Pos terkait