KHUTBAH JUMAT I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah, hidup di dunia bukan sekadar mencari kesenangan, tetapi merupakan perjalanan menuju kehidupan akhirat yang kekal.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dahulu, sebelum dikenal fenomena sound horeg seperti sekarang, karnaval biasanya dilaksanakan sekitar menjelang atau setelah waktu Zuhur dan berakhir sebelum Magrib. Para ulama dan tokoh masyarakat pun sering mengingatkan agar masyarakat tidak melupakan salat Zuhur dan Asar.
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian pertunjukan sound horeg mengalami perubahan. Waktu pelaksanaannya semakin panjang, bahkan ada yang berlangsung hingga malam. Dengan tambahan lampu, pertunjukan dapat dimulai setelah Magrib dan berlangsung hingga larut malam. Pada sebagian acara, terdapat dancer dengan pakaian yang tidak sesuai dengan nilai kesopanan, pertunjukan DJ di atas truk, bahkan dalam beberapa kasus muncul minuman keras dan percampuran laki-laki dan perempuan yang melampaui batas.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa semua acara sound horeg pasti demikian. Tetapi apabila sebuah hiburan telah membawa manusia kepada meninggalkan salat, membuka aurat, pergaulan bebas, minuman keras, atau perilaku yang dilarang agama, maka di situlah seorang Muslim wajib berhenti dan bertanya: Apakah hiburan ini masih membawa keberkahan, atau justru menjadi jalan menuju kemaksiatan?
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Perhatikan, Allah tidak hanya mengatakan, “Jangan berzina.” Tetapi Allah mengatakan, “Jangan mendekati zina.”
Artinya, Islam tidak hanya melarang perbuatan akhirnya, tetapi juga melarang jalan-jalan yang dapat mengantarkan manusia kepadanya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada dampak yang mungkin langsung kita rasakan dari hiburan yang berlangsung hingga larut malam. Anak-anak kehilangan waktu tidur, orang tua kelelahan, masyarakat terganggu ketenangannya, dan aktivitas keagamaan seperti salat berjamaah dapat terabaikan.
Tetapi ada dampak yang jauh lebih mengkhawatirkan: apa yang sedang kita tanamkan ke dalam pikiran anak-anak kita?
Anak kecil mungkin belum memahami apa yang dilihatnya. Tetapi matanya melihat. Telinganya mendengar. Ingatannya merekam. Apa yang hari ini dianggap sekadar tontonan, bisa menjadi sesuatu yang dianggap normal ketika mereka dewasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَى، أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْأُذُنِ الِاسْتِمَاعُ، وَزِنَا اللِّسَانِ الْكَلَامُ، وَزِنَا الْيَدِ الْبَطْشُ، وَزِنَا الرِّجْلِ الْخُطَا
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti akan dialaminya. Zina mata adalah memandang, zina telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah menyentuh, dan zina kaki adalah melangkah.” (HR. Muslim)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Inilah yang sering kita lupakan. Tidak semua yang bisa dilihat berarti boleh dilihat. Tidak semua yang bisa didengar berarti boleh didengar. Tidak semua yang menyenangkan berarti baik bagi kita.
Islam mengajarkan mana yang halal dan mana yang haram. Mana yang boleh dilihat dan mana yang harus ditundukkan pandangan. Mana pergaulan yang dibolehkan dan mana batas yang tidak boleh dilanggar.
Dahulu mungkin anak-anak hanya melihat hiburan semacam itu sesekali. Tetapi sekarang, dengan adanya sound system besar, lampu, dancer, live DJ, dan pertunjukan hingga tengah malam, tontonan tersebut dapat hadir sangat dekat dengan rumah kita.
Berbeda dengan pertunjukan di suatu tempat tertentu yang didatangi oleh orang-orang yang memang ingin menonton. Sound horeg dalam karnaval dapat melewati rumah-rumah warga. Anak-anak yang semula tidak berniat menonton pun akhirnya melihat karena pertunjukan berada di depan mata.
Maka persoalannya bukan hanya tentang “saya mau menonton atau tidak.” Persoalannya juga: “Apa yang sedang kita pertontonkan kepada anak-anak kita?”
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita tentu pernah mendengar kisah perdebatan mengenai goyangan Inul Daratista. Ketika sebagian orang mempersoalkan goyangan tersebut, Gus Dur pernah memberikan pembelaan dengan sudut pandang bahwa seseorang yang bekerja mencari nafkah tidak otomatis menjadi pihak yang melakukan maksiat; persoalan juga terletak pada bagaimana orang lain menyikapi dan melihatnya.
Kita tidak perlu memperdebatkan kembali kasus tersebut. Tetapi ada pelajaran penting yang dapat kita ambil: setiap manusia memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukannya dan apa yang dipilihnya untuk dilihat.
Namun, dalam konteks anak-anak kita, tanggung jawab orang tua menjadi jauh lebih besar. Jangan sampai kita berkata, “Namanya juga hiburan,” sementara anak kita sedang belajar dari apa yang mereka lihat. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Maka menjaga keluarga bukan hanya memberi mereka makan. Bukan hanya membelikan pakaian. Bukan hanya membayar sekolah.
Menjaga keluarga juga berarti menjaga mata mereka, telinga mereka, pergaulan mereka, tontonan mereka, dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita tidak sedang memusuhi hiburan. Islam tidak melarang manusia bersenang-senang selama berada dalam batas yang dibenarkan syariat.
Tetapi mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah hiburan itu membuat kita meninggalkan salat?
Apakah tontonan itu mengajarkan anak-anak membuka aurat dan pergaulan tanpa batas?
Apakah waktunya sampai mengganggu tidur dan kesehatan?
Apakah suara dan keramaiannya mengganggu hak tetangga?
Apakah anak-anak kita memperoleh tontonan yang seharusnya belum menjadi konsumsi mereka?
Kalau jawabannya demikian, maka sebagai orang tua, tokoh masyarakat, dan umat Islam, kita harus berani mengatakan: cukup.
Bukan karena kita membenci hiburan. Tetapi karena kita mencintai generasi yang akan melanjutkan kehidupan kita.
Jangan sampai anak-anak kita tumbuh dengan menganggap sesuatu yang haram sebagai hal biasa hanya karena sejak kecil mereka terus-menerus menyaksikannya.
Mari kita wariskan kepada anak-anak kita bukan hanya rumah dan harta, tetapi juga akhlak.
Sebab ketika harta kita habis, jabatan kita berakhir, dan tubuh kita kembali ke tanah, yang akan terus hidup adalah amal dan pendidikan yang kita tinggalkan.
Semoga Allah menjaga mata kita dari pandangan yang haram, menjaga telinga kita dari suara yang melalaikan, menjaga anak-anak kita dari pergaulan yang merusak, dan menjadikan keluarga kita keluarga yang mencintai iman, ilmu, ibadah, serta akhlak mulia. Amin ya Rabbal ‘alamin.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Sentuh 👉 GABUNG GRUP Kami menghimbau kepada pembaca untuk tetap mencantumkan penulis dan sumber sebagai bentuk amanah ilmiah dan penghargaan atas karya dakwah.





