Kultum Ramadhan Hari ke-10 Menuju Hari ke-11: Menjaga Keistiqamahan di Sepertiga Awal Ramadhan

Menjaga Keistiqamahan Di Sepertiga Awal Ramadhan
Menjaga Keistiqamahan Di Sepertiga Awal Ramadhan

MATERI KULTUM RAMADHAN SINGKAT

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih mempertemukan kita dengan puasa hari ke-10 dan mengantarkan kita memasuki hari ke-11 Ramadhan. Sepuluh hari pertama hampir berlalu. Ini adalah fase rahmat. Jika di awal ini kita bersungguh-sungguh, maka insyaAllah langkah kita di pertengahan dan akhir Ramadhan akan semakin kuat.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir hayat.

Bacaan Lainnya

Jamaah yang dirahmati Allah,

Memasuki hari ke-10 berarti kita telah menempuh sepertiga perjalanan Ramadhan. Waktu berjalan tanpa terasa. Hari-hari yang telah berlalu tidak akan kembali. Maka yang tersisa hanyalah amal yang sudah kita kerjakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Ayat ini memerintahkan kita untuk bersegera. Jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu nanti. Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang kembali.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika pintu surga telah dibuka, maka mengapa kita masih malas beramal? Jika setan telah dibelenggu, maka apa alasan kita untuk terus bermaksiat? Sering kali musuh terbesar kita bukan setan, tetapi hawa nafsu kita sendiri.

Jamaah sekalian,

Di hari ke-10 ini, mari kita belajar dari salah satu sahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya, yaitu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Beliau adalah seorang khalifah yang memimpin wilayah sangat luas, namun kehidupannya amat sederhana. Dikisahkan bahwa suatu malam, Umar berkeliling kota Madinah untuk memastikan keadaan rakyatnya. Ia menemukan seorang ibu yang sedang memasak batu dalam panci untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Anak-anak itu menangis karena lapar, sementara sang ibu hanya berpura-pura memasak agar mereka tertidur.

Mendengar itu, Umar menangis. Ia segera kembali ke Baitul Mal, memikul sendiri gandum di pundaknya. Ketika pembantunya ingin membantu, Umar berkata, “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”

Ia sendiri yang memasakkan makanan untuk keluarga tersebut hingga anak-anak itu tertawa dan kenyang. Umar tidak merasa dirinya sebagai penguasa, tetapi sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab.

Apa pelajaran bagi kita di hari ke-10 Ramadhan ini?

Puasa seharusnya melahirkan kepedulian sosial. Lapar yang kita rasakan mestinya membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Jika setelah sepuluh hari puasa hati kita masih keras, berarti ada yang perlu diperbaiki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Ramadhan bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Sedekah, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, semuanya adalah wujud nyata dari puasa yang berkualitas.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Memasuki hari ke-11 berarti kita mulai melangkah ke fase berikutnya. Jangan sampai semangat kita justru menurun setelah sepuluh hari pertama berlalu. Justru sekaranglah saatnya memperkuat niat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbarui niat kita setiap hari. Jangan biarkan puasa menjadi rutinitas tanpa ruh. Jadikan setiap sahur sebagai momentum doa. Jadikan setiap berbuka sebagai saat penuh syukur. Jadikan setiap sujud sebagai tempat mencurahkan air mata taubat.

Bayangkan jika Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kita. Apakah kita sudah memanfaatkannya dengan maksimal? Apakah kita sudah memperbaiki shalat kita? Sudahkah kita memohon ampun kepada orang tua kita? Sudahkah kita membersihkan hati dari dendam dan iri?

Jamaah sekalian,

Sepuluh hari pertama hampir selesai. Mari kita jadikan sisa Ramadhan sebagai kesempatan memperbaiki diri. Jika tilawah kita masih sedikit, tambahlah. Jika sedekah kita masih minim, perbanyaklah. Jika shalat kita masih kurang khusyuk, perbaikilah.

Semoga kita mampu meneladani keikhlasan dan kepedulian para sahabat. Semoga kita tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga berpuasa dengan hati yang tunduk dan jiwa yang bersih.

Mari kita tutup dengan doa:

Ya Allah, jangan Engkau jadikan sepuluh hari pertama Ramadhan berlalu tanpa ampunan bagi kami. Lembutkan hati kami sebagaimana Engkau lembutkan hati para sahabat Nabi-Mu. Jadikan kami hamba yang peduli kepada sesama, dan istiqamah dalam ketaatan hingga akhir Ramadhan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Download Khutbah Singkat PDF

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW

Pos terkait