MATERI KULTUM RAMADHAN SINGKAT
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadhan adalah bulan penyucian jiwa. Kita menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun sesungguhnya, puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga menahan lisan dari dosa. Salah satu dosa lisan yang sering dianggap ringan, padahal sangat berat di sisi Allah, adalah ghibah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menggambarkan betapa menjijikkannya ghibah. Allah mengibaratkannya seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Betapa kejam dan ngerinya perbuatan itu. Namun anehnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukannya dengan ringan—bahkan sambil tersenyum dan bercanda.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hakikat ghibah dalam sebuah hadist:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.’” (HR. Muslim)
Ketika para sahabat bertanya, “Bagaimana jika yang kami katakan itu benar adanya?” Rasulullah menjawab bahwa jika benar, itulah ghibah. Jika tidak benar, maka itu fitnah, dan dosanya lebih besar lagi.
Hadirin sekalian,
Bayangkan, saat kita berpuasa, kita bangun sahur dengan penuh harap agar Allah menerima ibadah kita. Kita menahan lapar, menahan haus, menahan amarah. Namun di siang hari, lidah kita sibuk membicarakan keburukan orang lain. Tanpa sadar, pahala puasa yang kita kumpulkan perlahan habis, terkikis oleh dosa lisan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
Mengapa bisa demikian? Karena ia tidak menjaga lisannya. Ia tetap berdusta, mengumpat, memfitnah, dan berghibah. Secara fisik ia berpuasa, tetapi secara ruhani ia tidak menjaga dirinya.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Di era media sosial, ghibah tidak lagi terbatas pada percakapan lisan. Ia hadir dalam bentuk komentar pedas, unggahan sindiran, tangkapan layar aib orang lain, bahkan candaan yang merendahkan. Satu ketikan jari bisa menjadi dosa yang terus mengalir. Betapa sering kita membicarakan orang yang tidak hadir di hadapan kita, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya jika ia mendengar.
Padahal Ramadhan adalah madrasah untuk melatih pengendalian diri. Jika kita mampu menahan diri dari hal yang halal seperti makan dan minum, maka seharusnya lebih mudah bagi kita untuk meninggalkan yang haram seperti ghibah.
Renungkanlah, bagaimana jika setiap kalimat buruk yang kita ucapkan tentang orang lain, kelak dituntut di hadapan Allah? Dalam hadis tentang orang yang bangkrut (al-muflis), Rasulullah bersabda bahwa orang tersebut datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia pernah mencaci, memfitnah, dan menyakiti orang lain. Maka pahalanya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi, hingga habis. Jika belum cukup, dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim)
Hadirin yang berbahagia,
Marilah kita menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk membersihkan hati dan lisan. Jika ingin berbicara, pastikan yang keluar adalah kebaikan. Jika tidak mampu berkata baik, maka diamlah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diam karena menjaga diri dari dosa adalah ibadah. Menahan diri untuk tidak membicarakan aib orang lain adalah bentuk kasih sayang kepada sesama muslim.
Mari kita latih diri mulai hari ini. Setiap kali muncul keinginan untuk membicarakan keburukan orang lain, ingatlah gambaran mengerikan dalam Surah Al-Hujurat tadi. Bayangkan seolah-olah kita sedang menyantap daging saudara kita sendiri. Tentu kita akan merasa jijik dan berhenti.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan lisan kita dari ghibah, hati kita dari dengki, dan menerima puasa kita dengan penuh keberkahan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW






