MATERI KULTUM RAMADHAN SINGKAT
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita telah memasuki Ramadhan ke-16. Artinya, separuh lebih perjalanan spiritual kita telah berlalu. Pertanyaannya, masihkah semangat ibadah kita seperti hari pertama? Ataukah mulai melemah, berkurang, bahkan hampir padam? Inilah pentingnya istiqamah—konsistensi dalam amal.
Istiqamah bukan berarti melakukan amal besar sesekali, tetapi melakukan amal meski kecil secara terus-menerus. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini menjadi pengingat bagi kita bahwa Allah tidak menilai seberapa besar amal kita di mata manusia, tetapi seberapa konsisten kita melakukannya karena Allah.
Jamaah sekalian,
Ramadhan adalah madrasah ruhiyah. Ia melatih kita bangun malam untuk sahur dan tahajud, melatih lisan kita untuk membaca Al-Qur’an, melatih tangan kita untuk bersedekah, serta melatih hati kita untuk bersabar. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana kebiasaan baik ini tetap terjaga, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga setelahnya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS. Fussilat: 30)
Ayat ini menegaskan bahwa istiqamah adalah bukti nyata dari keimanan. Mengaku beriman itu mudah, tetapi bertahan dalam ketaatan itulah ujian sebenarnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Istiqamah sering kali diuji ketika semangat mulai menurun. Pada awal Ramadhan, masjid penuh, tilawah lancar, sedekah mengalir deras. Namun memasuki pertengahan bulan, sebagian mulai merasa lelah. Di sinilah kita harus melawan rasa futur (kendor). Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi semangat sesaat.
Rasulullah ﷺ juga pernah memberikan nasihat singkat namun mendalam kepada seorang sahabat. Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan:
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ، قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Artinya: Sufyan bin Abdullah berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang tidak akan aku tanyakan lagi kepada siapa pun setelah engkau.” Beliau bersabda, “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Betapa sederhana dan dalamnya pesan Rasulullah ﷺ: iman dan istiqamah. Tidak cukup hanya iman, tetapi harus dibuktikan dengan konsistensi.
Hadirin yang berbahagia,
Bagaimana cara menjaga istiqamah di Ramadhan ke-16 ini?
Pertama, perbaiki niat. Setiap amal yang dilakukan harus dilandasi niat karena Allah. Niat yang lurus akan menjadi bahan bakar untuk tetap konsisten.
Kedua, buat target yang realistis. Jangan memaksakan diri dengan target besar yang akhirnya tidak mampu dijaga. Lebih baik membaca satu juz setiap hari secara konsisten daripada dua juz hanya di awal lalu berhenti.
Ketiga, jaga lingkungan. Bertemanlah dengan orang-orang saleh yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Lingkungan yang baik akan membantu kita tetap istiqamah.
Keempat, perbanyak doa. Karena hati manusia berada di tangan Allah. Rasulullah ﷺ sering berdoa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah ﷺ pun memohon keteguhan hati. Lalu bagaimana dengan kita yang imannya naik turun?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan ketahanan spiritual. Jika selama 15 hari kita telah mampu menahan diri dari yang halal di siang hari, maka seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari yang haram di luar Ramadhan.
Istiqamah adalah tanda diterimanya amal. Sebagian ulama mengatakan, “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan berikutnya.” Jika setelah berbuat baik kita terdorong untuk terus berbuat baik, itu pertanda Allah menghendaki kebaikan bagi kita.
Mari kita jadikan Ramadhan ke-16 ini sebagai momentum evaluasi diri. Apakah shalat kita lebih khusyuk? Apakah tilawah kita lebih rutin? Apakah sedekah kita semakin ringan? Jika ya, pertahankan. Jika belum, perbaiki mulai hari ini.
Jangan menunggu sepuluh hari terakhir untuk kembali semangat. Karena kita tidak pernah tahu apakah kita akan sampai ke sana atau tidak. Umur adalah rahasia Allah. Maka selama nafas masih berhembus, selama kesempatan masih ada, mari kita jaga konsistensi amal kita.
Akhirnya, marilah kita tutup kultum ini dengan doa agar Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah, bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang hayat.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)
Semoga Allah ﷻ menerima seluruh amal ibadah kita, menguatkan hati kita dalam ketaatan, dan menjadikan kita hamba-hamba yang istiqamah hingga akhir hayat.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW





