Kultum Ramadhan Hari ke-18 PDF: Memperbanyak Istighfar Di Bulan Ampunan

Memperbanyak Istighfar Di Bulan Ampunan
Memperbanyak Istighfar Di Bulan Ampunan

MATERI KULTUM RAMADHAN SINGKAT

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesempatan sehingga kita masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bacaan Lainnya

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari ini kita telah memasuki Ramadhan hari ke-18. Artinya kita semakin mendekati penghujung bulan yang penuh keberkahan ini. Waktu Ramadhan terasa begitu cepat berlalu. Seakan baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh kegembiraan, kini sebagian dari malam-malamnya telah pergi meninggalkan kita.

Pada saat seperti inilah kita perlu merenung. Sudahkah Ramadhan kita isi dengan amal yang terbaik? Sudahkah kita memperbanyak taubat kepada Allah? Karena sesungguhnya Ramadhan adalah bulan ampunan. Bulan di mana pintu-pintu rahmat dibuka lebar, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak istighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara mereka memohon ampun (beristighfar).” (QS. Al-Anfal: 33)

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa istighfar adalah salah satu sebab turunnya rahmat Allah dan terhindarnya manusia dari azab-Nya. Selama seseorang mau kembali kepada Allah, mengakui dosa-dosanya, dan memohon ampun kepada-Nya, maka pintu ampunan selalu terbuka.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sering kali kita merasa bahwa dosa-dosa kita terlalu banyak. Kita merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Padahal justru karena banyaknya dosa itulah kita harus memperbanyak istighfar.

Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk terus memohon ampun kepada-Nya. Dalam firman-Nya:

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ

“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan memperbanyak harta serta anak-anakmu.” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga menjadi sebab datangnya berbagai keberkahan dalam kehidupan: rezeki yang luas, ketenangan hidup, dan kemudahan dalam berbagai urusan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita berbicara tentang istighfar, maka teladan terbaik kita adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau adalah manusia yang paling mulia dan telah dijamin dosanya oleh Allah. Namun beliau tetap memperbanyak istighfar setiap hari.

Dalam sebuah hadits sahih Rasulullah bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

Bayangkan, Rasulullah yang maksum saja beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari. Lalu bagaimana dengan kita yang penuh dengan dosa dan kesalahan?

Kadang dosa kita bukan hanya dosa besar, tetapi juga dosa-dosa kecil yang sering kita anggap sepele. Dosa karena lisan yang menyakiti orang lain, dosa karena pandangan yang tidak dijaga, dosa karena hati yang dipenuhi iri dan dengki, atau dosa karena lalai dari mengingat Allah.

Semua dosa itu membutuhkan istighfar.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk membersihkan hati. Kita sedang menjalankan puasa, menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, serta memperbanyak ibadah. Namun jangan sampai ibadah kita hanya sebatas menahan lapar dan haus saja, tanpa diiringi dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun agar ampunan itu benar-benar kita dapatkan, maka kita harus mengiringi puasa kita dengan taubat dan istighfar yang tulus.

Apalagi kita sekarang sedang berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan, yaitu waktu yang sangat istimewa. Pada malam-malam ini terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ketika mencari Lailatul Qadar adalah doa istighfar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Rasulullah:

“Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?”

Rasulullah menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)

Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa pada malam yang paling mulia pun, yang kita minta kepada Allah adalah ampunan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Istighfar sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan. Kita bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja. Saat selesai shalat, saat berjalan, saat menunggu sesuatu, bahkan saat bekerja.

Lafaz istighfar yang paling sederhana adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

Namun yang lebih penting dari sekadar ucapan adalah hadirnya hati yang benar-benar menyesal atas dosa yang telah dilakukan, serta tekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Ulama mengatakan bahwa taubat yang benar memiliki tiga syarat:

  1. Menyesali dosa yang telah dilakukan.
  2. Berhenti dari perbuatan dosa tersebut.
  3. Bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.

Jika dosa tersebut berkaitan dengan manusia, maka ada syarat tambahan yaitu meminta maaf dan mengembalikan hak orang tersebut.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan hampir mencapai penghujungnya. Jangan sampai kita keluar dari bulan suci ini tanpa membawa ampunan dari Allah. Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut dalam hadits Rasulullah:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini adalah peringatan bagi kita semua. Betapa ruginya orang yang melewati Ramadhan tetapi tidak mendapatkan ampunan dari Allah.

Oleh karena itu, marilah di sisa Ramadhan ini kita memperbanyak istighfar. Basahi lisan kita dengan ucapan astaghfirullah, lembutkan hati kita dengan taubat, dan mohonlah kepada Allah agar semua dosa kita diampuni.

Semoga dengan istighfar yang kita lakukan, Allah membersihkan hati kita, mengangkat kesulitan hidup kita, melapangkan rezeki kita, serta menjadikan kita hamba-hamba yang kembali kepada-Nya.

Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi Ramadhan yang mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Download Khutbah Singkat PDF

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW

Pos terkait