Kultum Ramadhan Hari ke-6 Menuju Hari ke-7: Menjaga Istiqamah di Hari Ketujuh Ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bacaan Lainnya

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini kita telah melewati puasa hari ke-6 dan bersiap memasuki hari ke-7 Ramadhan. Waktu berjalan begitu cepat. Baru kemarin kita menyambut Ramadhan dengan penuh harap, kini hampir sepekan telah berlalu. Pertanyaannya, sudahkah hati kita berubah? Sudahkah iman kita meningkat?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Tujuan utamanya adalah takwa. Takwa artinya menghadirkan Allah dalam setiap langkah hidup kita. Merasa diawasi, merasa dekat, dan merasa takut untuk berbuat dosa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini sangat menyentuh hati kita. Bisa jadi kita kuat menahan lapar, tetapi lisan kita masih menyakiti. Bisa jadi kita rajin berbuka dan sahur, tetapi hati kita masih penuh iri dan dengki. Maka puasa hari ke-6 ini harus menjadi bahan muhasabah. Sudahkah puasa kita memperbaiki akhlak?

Memasuki hari ke-7 Ramadhan, mari kita perbaiki niat dan tekad. Jangan sampai semangat kita hanya membara di awal, lalu melemah di pertengahan. Ramadhan adalah madrasah ruhiyah, sekolah jiwa. Setiap hari adalah pelajaran, setiap malam adalah kesempatan mendekat kepada Allah.

Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini berada di tengah-tengah pembahasan tentang puasa. Seakan Allah ingin memberi pesan, bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berdoa. Di saat lapar dan dahaga, doa kita lebih mudah menembus langit.

Saudaraku,

Mungkin di antara kita ada yang sedang diuji dengan masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, atau kegelisahan hati. Jangan menyerah. Ramadhan adalah bulan harapan. Setiap tetes air mata yang jatuh karena doa, setiap rasa lapar yang ditahan karena Allah, tidak akan sia-sia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka ia bergembira, dan ketika bertemu Rabb-nya ia bergembira karena puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa indah janji ini. Kebahagiaan pertama kita rasakan setiap maghrib. Namun kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Maka jangan sia-siakan hari-hari awal Ramadhan ini.

Memasuki hari ke-7, mari kita tingkatkan kualitas ibadah:

Pertama, perbaiki shalat kita. Jangan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi hadirkan hati dalam setiap rakaat.

Kedua, perbanyak tilawah Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Satu huruf diganjar sepuluh kebaikan, bahkan dilipatgandakan.

Ketiga, jaga lisan dan hati. Jangan biarkan puasa ternodai oleh ghibah, amarah, atau perdebatan sia-sia.

Keempat, perbanyak sedekah. Ramadhan adalah bulan berbagi. Bisa jadi harta yang kita keluarkan justru menjadi penyelamat kita di akhirat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita tidak pernah tahu apakah Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir bagi kita. Sudah berapa orang yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah tiada. Maka jangan tunda taubat. Jangan tunda kebaikan. Jangan tunda meminta maaf.

Mari jadikan puasa hari ke-6 ini sebagai titik balik. Jadikan hari ke-7 sebagai awal kesungguhan. Jika di enam hari pertama masih banyak kekurangan, maka tujuh hari ke depan harus lebih baik.

Semoga Allah melembutkan hati kita, menguatkan langkah kita, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Semoga Ramadhan ini benar-benar mengubah kita menjadi hamba yang bertakwa.

Rabbana taqabbal minna, innaka Antas-Sami’ul ‘Alim. Watub ‘alaina, innaka Antat-Tawwabur Rahim.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Download Khutbah Singkat PDF

Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW

Pos terkait