Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kini kita telah melewati tiga hari puasa dan sedang bersiap memasuki hari keempat Ramadhan. Mungkin di hari pertama semangat kita begitu membara. Hati bergetar saat sahur pertama, mata berkaca-kaca saat tarawih perdana. Namun memasuki hari ketiga dan keempat, mulai terasa ujian yang sesungguhnya: rasa lelah, kantuk, pekerjaan yang menumpuk, dan mungkin juga mulai muncul rasa jenuh.
Di sinilah letak perjuangan sebenarnya. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menjaga api iman agar tetap menyala hingga akhir bulan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa bukan sekadar menahan diri, tetapi membentuk ketakwaan. Takwa itu bukan lahir dalam sehari. Ia tumbuh sedikit demi sedikit. Hari pertama menanam niat, hari kedua menguatkan tekad, hari ketiga dan keempat menguji konsistensi.
Hadirin sekalian,
Sering kali semangat kita tinggi di awal, tetapi menurun di tengah jalan. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya istiqamah dalam kebaikan. Beliau bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadhan adalah latihan istiqamah. Jika hari pertama kita membaca satu juz Al-Qur’an, jangan sampai hari keempat kita tidak membaca sama sekali. Jika hari pertama kita khusyuk dalam shalat, jangan sampai hari keempat kita lalai dan terburu-buru.
Justru di hari-hari inilah Allah melihat kesungguhan kita. Apakah kita beribadah karena suasana? Ataukah karena cinta kepada-Nya?
Saudara-saudaraku,
Puasa mengajarkan kita keikhlasan. Tidak ada manusia yang benar-benar tahu apakah kita sungguh berpuasa atau tidak. Kita bisa saja minum secara sembunyi-sembunyi. Tetapi kita tidak melakukannya. Mengapa? Karena kita sadar Allah Maha Melihat.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kalimat ini. Semua amal memiliki balasan yang terukur. Tetapi puasa, Allah sendiri yang membalasnya secara istimewa. Artinya, jangan pernah merasa lelah dalam berpuasa. Jangan merasa sia-sia dalam menahan amarah. Jangan merasa rugi dalam menahan diri dari ghibah.
Memasuki hari keempat, mari kita evaluasi diri. Sudahkah lisan kita benar-benar berpuasa? Ataukah hanya perut yang berpuasa?
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi masih berkata kasar. Betapa banyak yang menahan lapar tetapi tidak menahan amarah. Maka mari kita jadikan hari-hari berikutnya lebih baik dari sebelumnya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ramadhan adalah bulan rahmat. Bisa jadi ini bukan Ramadhan terakhir kita. Tetapi bisa juga ini adalah Ramadhan terakhir kita. Siapa yang menjamin kita masih bertemu Ramadhan tahun depan?
Betapa banyak orang yang tahun lalu bersama kita, kini telah berada di alam kubur. Mereka mungkin ingin kembali walau hanya satu hari untuk berpuasa, bersedekah, atau sujud lebih lama. Namun kesempatan itu telah tertutup.
Allah SWT berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi…’” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Ayat ini menyentuh hati kita. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan Ramadhan.
Maka memasuki hari keempat ini, mari perbarui niat. Niatkan puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan.
Jika kita masih sulit meninggalkan maksiat, jadikan Ramadhan sebagai titik balik.
Jika shalat kita masih bolong-bolong, jadikan Ramadhan sebagai awal kedisiplinan.
Jika hati kita masih keras, lembutkan dengan tilawah dan sedekah.
Hadirin sekalian,
Bayangkan ketika adzan maghrib berkumandang. Betapa nikmatnya seteguk air setelah seharian menahan haus. Itulah gambaran kecil dari kenikmatan yang Allah siapkan bagi orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah SAW bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kebahagiaan kedua inilah yang harus kita perjuangkan. Kebahagiaan saat bertemu Allah dengan membawa catatan puasa yang penuh keikhlasan.
Mari kita jaga semangat ini. Jangan biarkan ia redup setelah hari ketiga. Jadikan hari keempat lebih baik. Jadikan Ramadhan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya.
Semoga Allah menguatkan langkah kita, menjaga niat kita, dan menerima seluruh amal ibadah kita.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amal ibadah kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Silahkan bergabung dengan kami di Grup Telegram, Wa, atau Facebook untuk mendapatkan materi terbaru dari KHUTBAHSINGKAT.com Klik JOIN NOW






